Jangan Durhaka pada Anak

Wah teman2 sangat penasaran khan dengan judulnya ter bukti teman2 langsung maen ke blog ky dan langsung liat postingan ky yang ini dengan bertanya2 dalam hati, hal yang sama juga ky rasakan saat seminggu yang lalu ky buka FB dan ky liat catatan seorang teman yang judulnya sangat kontradiktif bgt, bagaimana tidak biasanya yang durhaka itu adalah anak sama orang tuanya tapi ini kebalikannya jangan sampai durhaka pada anak, bagaimana bisa!!!!!!????

Nah supaya ky tidak salah menafsirkanya untuk teman2 baiknya baca sendiri aja deh….oke.

Jangan Durhaka pada Anak

Seorang teman pernah bercerita soal anak dan tanggung jawab. Suatu hari dia
menyeberang jalan, di sebuah jalanan di Spanyol. Seperti biasa, sebagai
orang Indonesia, ia menyeberang tanpa melalui zebra-cross.
Saat itu memang tak ada mobil, sepi, juga tak ada polisi, kecuali
seorang ibu dengan anaknya yang masih balita. Begitu ia sampai ke
seberang jalan, terdengar teriakan si ibu dari seberang jalan yang baru
saja ia tinggalkan. “Hei, hei, ke Sini!”
Mendengar seorang ibu yang berteriak sambil melambaikan tangan,
lagi-lagi sebagai orang Indonesia, teman ini langsung kembali
menyeberang. Pasti ada apa-apa dengan ibu ini, ia butuh pertolongan.
Sesampainya di dekat ibu itu, ia dibentak, “Hai, kenapa kamu
menyeberang bukan dari zebra-cross? Tahukah kamu, kelakuanmu itu sudah
mengajari anak saya
melanggar peraturan, kamu sudah menanamkan dalam memorinya bahwa melanggar peraturan itu sesuatu yang biasa-biasa saja!”
Cerita ini mengagetkan teman saya, juga saya. Soal orang Indonesia
melanggar peraturan bukanlah hal yang mengejutkan. Namun argumen ibu
itu yang mengaitkan pelanggaran dengan masa depan anaknya itulah yang
lebih mengejutkan. Begitu pentingnya masa depan anak-anak bagi ibu itu,
begitu pentingnya ibu itu menjaga memori dan kesadaran anaknya agar
tetap terjaga dalam perbuatan baik. Bagaimana dengan kita?
Pertengahan bulan Juli ini, saya memiliki cerita yang lain tentang
orang tua dan anaknya. Kali ini dari tetangga-tetangga saya yang mau
menyekolahkan anaknya di SMP. Konon, sang anak adalah juara umum di
sekolahnya dan dapat mengikuti test masuk SMP dengan mudah.
“Mudah-mudahan anak saya bisa masuk pilihan pertamanya!” harap sang
bapak.
Tanggal 11 malam, sang bapak bertemu lagi dengan wajah yang muram,
lebih tepatnya penuh kekecewaan, “Anak saya gagal, semula nilainya 80,
saya sudah mengeceknya lewat SMS. Eh…kemarin nilainya jadi 67. Saya
protes, dan guru-guru di SMP itu minta maaf atas kekhilafannya. Lalu,
mereka menawarkan jalan belakang, biasa dengan bayar sekian rupiah!”
Tetangga saya menolak untuk membayar, ia biarkan anaknya ke sekolah
swasta saja.
“Saya tak mau anak saya belajar di sekolah pembohong!” Menurut
sahibul gosip, melorotnya nilai anak tetangga saya itu karena ada
beberapa anak lain yang nilainya rendah dikatrol dengan cara membayar
sekian rupiah. Tentu saja yang membayarnya adalah orang tua, dan yang
menerimanya adalah guru yang terhormat.
Marilah kita bandingkan sikap dan tanggung jawab kita pada
anak-anak. Keputusan untuk membayar sejumlah rupiah demi sang anak
tentu didasari pilihan untuk memberikan kasih sayang yang terbaik buat
sang anak, namun pada saat yang bersamaan kita telah menanamkan racun
pada kesadaran anak-anak itu. Racun itu adalah: 1) uang bisa
menyelesaikan segalanya; 2) tak usah berprestasi, biasa-biasa saja,
nanti juga uang bisa menambalnya.
Barangkali dari peristiwa kecil inilah korupsi membudaya. Tanpa
sadar kita melakukannya setiap hari, dan repotnya lagi kita melakukan
itu di depan anak-anak kita. Anak-anak yang masih polos itu pastilah
telah mencatat di relung kesadarannya dan menjadikannya falsafah hidup
sepanjang hayat. Terlebih lagi, peristiwa ini dialami sang anak di
lembaga pendidikan yang semua aspeknya merupakan nilai mulia yang harus
ditiru dan diteladani.
Marilah kita bercermin lagi pada cerita yang lain. Cerita kali ini
datang dari salah seorang cucu Mahatma Ghandi. Ia dan anaknya pergi ke
suatu tempat. Karena acara sang ayah agak lama, sang anak diizinkan
untuk membawa mobil itu bagi keperluannya sendiri. “Syaratnya, jam
sekian kamu harus berada di sini, menjemput Bapak!” ujar sang ayah.
Pada jam yang ditentukan sang anak belum kembali, menit demi menit
sang anak belum juga kembali. Sang ayah menunggu sampai beberapa jam.
Lalu, sang anak datang dan mengajukan permohonan maafnya. “Baiklah
kalau begitu,” ujar sang ayah, “naikilah mobil itu, bawalah pulang.
Bapak akan jalan kaki ke rumah!” Sang anak protes dan merasa bersalah.
Namun sang Ayah tetap saja jalan kaki sambil berpesan, “Mengingkari
janji adalah kesalahan terbesar dalam hidup ini, kamu sudah
melakukannya padaku. Semua itu pastilah bukan kesalahanmu, itu semua
karena saya salah mengajarimu, Nak. Karena itu biarlah ayah menghukum
diri, menghukum kesalahan pendidikanku padamu!” Sejak saat itu, sang
anak tak pernah lagi mengingkari janji.
Seluruh kisah-kisah ini adalah bahan refleksi kita. Benarkah kita
serius merawat anak kita yang sering kita sebut sebagai amanah
(titipan) dari Allah?
Betapa mulia kata-kata “amanah (titipan) Allah”. Pada istilah ini terlihat relasi antara Allah dan kita yang
sedemikian akrab, Allah percaya pada kita karena itu Dia menitipkan
sesuatu yang berharga. Lazimnya titipan, ia harus tetap seperti nilai
awalnya. Nilai awal sang anak adalah fitrah, dan harus tetap fitrah.
Fitrahnya adonan untuk dicetak, fitrahnya perhiasan untuk membuat
bangga pemakainya, fitrahnya sang anak tentu bukan untuk “dicetak” agar
“membuat bangga” orang tuanya. Sang anak adalah sebutir benih yang
begitu rapuh, butuh tanah yang baik dan pemeliharaan yang sesuai
takaran. Kecenderungan benih adalah terus mencari cahaya, tetapi putik
kecil bisa saja ditipu –diberi cahaya palsu– dan memercayainya seumur hidup.
Bisakah kita menjadi tanah, yang menerima amanat secara jujur? Tanah
tak pernah menumbuhkan semangka bila ia mendapatkan titipan benih padi.
Benih padi yang ditanam, tumbuhan padi pula yang tumbuh. Bisakah kita
menerima benih fitrah “anak kita” dan mengembangkannya menjadi fitrah
yang lebih baik? Sebuah hadis menyatakan bahwa setelah kematian menerpa
kita, tak ada yang bisa menolong dari siksa kubur kecuali doa dari
kesalehan sang anak. Tentu saja, maksud hadis ini bila sang anak,
“titipan Allah” itu, telah kita jaga dan tumbuh tetap berada dalam
fitrahnya, maka kita akan mendapatkan hadiah dari Tuhan karena telah
menjaga amanahnya dengan baik.

Intinya jangan sampai karena kasih sayang yang terlalu berlebihan terhadap anak or orang tua malah jadi ga baik tuk orang yang kita limpahi kasih sayang tersebut, biarkan mereka atau diri kita masing2 menghadapi masalah2 yang diperuntukkan bagi kita masing2 jangan sampai bergantung akan bantuan seseorang, minimal itu usaha dulu semampu kita baru minta bantuan jika seumpamanya perlu dibantu, kita dibekali oleh Allah otak yang membedakan kita dengan makhluk ciptaaNYA yang lain. bukankah masalah yang akan buat kita dewasa dalam menjalani hidup dan kehidupan ini.

Mudah2an ini dapat menginspirasi teman2,kakak2,abang2,bapak dan ibuk sesama blogger. Terimakasih buat teman ky Gema yang telah menginspirasi postingan ini.

Ayo Semangat……dan Tetap Semangat……

3 Responses to “Jangan Durhaka pada Anak”

  1. dihujanicinta Says:

    benerr bang

  2. ya ky, orang tua memang harus tahu juga bahwa mereka gak boleh durhaka pada anaknya. ki juga dah pernah baca tulisan tentang hal ini. dan sebenarnya, tidak jarang loh kita melihat kejadian di mana orang tua berbuat kurang pantas pada anaknya. mudah2an kita gak akan berbuat spt itu nanti jika dikaruniai anak :)

  3. @ sarah&kiki: bener bgt jgn samapi kt jd pelaku yg durhaka ama anak nantina jg dikaruniai oleh Allah SWT….

Leave a Reply